efek

Senin, 03 Juli 2017

Penyebaran Islam di Pekalongan Abad XV-XVII

 
Menelusuri Jejak Penyebaran Islam di Pekalongan
Penyebaran Islam di Pekalongan Abad XV-XVII

Kuatnya nuansa santri yang religius dalam kehidupan masyarakat Pekalongan merupakan satu bukti keberhasilan Islamisasi. Hal ini tentunya dapat dirunut jauh ke belakang dari masa awal penyebaran agama Islam itu sendiri. Pekalongan sebagai daerah pesisir, sebagaimana daerah pesisir utara Jawa lainnya, merupakan sasaran dakwah yang awal dibandingkan daerah pedalaman, sehingga sangat wajar mengalami perkembangan yang lebih cepat. selain itu, banyak terdapat situs makam auliya’ yang tersebar dari dataran rendah di utara sampai daerah dataran yang lebih tinggi di daerah selatan. Bukti ini mendukung pandangan umum yang berlaku bahwa Islam datang dan menyebar di Jawa berkat jasa para wali, lebih khusus lagi para Walisongo.

Meskipun daerah Pekalongan telah berpenghuni sejak zaman prasejarah, namun nama Pekalongan itu sendiri baru muncul pada masa kerajaan Mataram Islam pada masa Sultan Agung. Adapun proses islamisasi dipastikan telah sampai ke daerah yang nantinya menjadi wilayah Pekalongan ini jauh sebelum berdirinya kerajaan Mataram Islam.

Pada abad ke-15 kemungkinan besar proses Islamisasi telah ada di Pekalongan. Pada masa Raden Rahmat atau Sunan Ampel (w.1481 M) yang dianggap sebagai pemimpin Wali Sanga, sebagaimana disebutkan dalam Babad Tanah Jawi edisi Meinsma. Sunan Ampel telah sukses melakukan penyebaran Islam setelah mendirikan pesantren di Kembang Kuning. Pondok Pesantren ini menjadi pusat penyebaran Islam yang pertama di Jawa. Di tempat inilah dididik pemuda-pemudi Islam sebagai kader untuk kemudian disebarkan ke berbagai tempat di seluruh pulau Jawa, antara lain Raden Paku atau Sunan Giri, Raden Patah yang kemudian menjadi Sultan pertama Demak, Raden Makdum Ibrahim, putranya yang terkenal dengan sebutan Sunan Bonang kemudian Syarifuddin yang belakangan dikenal dengan sebutan Sunan Drajat.

Salah seorang murid Sunan Ampel yang makamnya ditemukan di desa Wonobodro Kecamatan Blado Kabupaten Batang bernama Syaikh Zilbani. Namun sejauh ini belum diperoleh informasi mengenai sejarah hidup Syaikh Zilbani kecuali hanya informasi bahwa ia sebagai murid Sunan Ampel. Dimungkinkan sekali wilayah dakwah beliau tidak hanya terbatas di Wonobodro atau Batang saja, namun juga meliputi daerah Pekalongan dan sekitarnya. Mengingat antara Batang dan Pekalongan adalah dua kota dan daerah yang berdekatan. Selain itu, di kompleks pemakaman Wali di Desa Wonobodro terdapat juga makam Maulana Maghribi dan Ki Ageng Pekalongan. Keberadaan makam murid Sunan Ampel di daerah ini mengindikasikan bahwa pada abad ke-15 penyebaran Islam telah sampai di daerah Pekalongan.

Pada periode perkembangan berikutnya perkembangan Islam melaju dengan pesat bersamaan munculnya kerajaan Islam Demak (1472-1546 M). Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam. Secara berangsur-angsur islamisasi menunjukkan keberhasilannya di daerah pesisir utara Jawa Tengah pada abad ke-15. Dengan perkembangan tersebut, para wali menganggap tepat saatnya untuk membangun Masjid Agung di ibukota kerajaan Bintoro Demak sebagai sarana penyebaran keilmuan Islam yang lebih efektif. Masjid Agung Demak ini dibangun sekitar tahun 1479 M atau 884 H. Masjid yang didirikan oleh para wali ini memiliki peran sangat penting dalam penyebaran keagamaan Islam di Jawa Tengah. Masjid Demak ini mengalami renovasi pertama oleh putra Raden Patah yaitu Raden Trenggana (berkuasa 1504 M-1546 M) pada tahun 1506 M.

Peristiwa pembangunan Masjid Agung Demak tersebut ada hubungannya dengan pembangunan masjid tertua di kota Pekalongan yakni Masjid Aulia yang berada di lokasi Pemakaman Umum Kelurahan Sapuro, Kecamatan Pekalongan Barat. Bangunan Masjid ini didirikan pada tahun 1135 Hijriah, yang berarti usia masjid tersebut sudah mencapai 295 tahun. Diduga dari masjid inilah penyebaran agama Islam dilakukan di kawasan Pantura. Menurut Kiai Dananir, salah satu pengelola masjid, bangunan masjid yang tergolong tua di Kota Pekalongan itu, penuh dengan nilai-nilai sejarah penyebaran Islam di daerah pesisir pulau Jawa. Seperti terlihat pada kayu-kayu untuk bangunan masjid Aulia yang berasal dari sisa pembangunan Masjid Demak masa Walisongo. Kemudian mimbar untuk khutbah berornamen ukir-ukiran lengkap dengan trap tangga layaknya masjid-masjid tua, ternyata mimbar itu merupakan hadiah dari kerajaan Demak Bintoro masa Walisongo. Bahkan terlihat adanya prasasti di atasnya bertuliskan tahun 1208 Hijriyah.

Ditambahkan, perjalanan sejarah pembangunan Masjid Aulia diawali dari siar agama Islam dari tokoh ulama Bintara Demak melalui pesisir Pantura, masing-masing Kyai Maksum, Kyai Sulaiman, Kyai Lukman dan Nyai Kudung. Keempat ulama itu sedianya membangun masjid di sekitar Alas (hutan) Roban (Plelen-Batang). Bahkan pondasinya dan tempat wudlu sudah dibuat. Namun belakangan mereka memperoleh petunjuk jika daerah setempat nantinya tidak ada penghuninya. Sehingga pendirian masjid tidak diteruskan (situsnya masih ada di seputar Alas Roban Batang). Merekapun akhirnya menemukan tempat di Sapuro.

Di sekitar lokasi tersebut terdapat makam habib atau ulama-ulama besar maupun tokoh kerajaan. Di antaranya, Habib Ahmad Alatas, Pangeran Adipati Aryo Notodirjo yang wafat tahun 1899, Bupati Pasuruan R. Tumenggung Amongnegoro yang wafat tahun 1666 dan beberapa sesepuh lainnya.

Keberadaan Masjid Auliya’ tidak dipungkiri merupakan bukti sejarah yang penting bagi masyarakat Pekalongan. Akan tetapi kalau kita cermati, terutama tahun pendiriannya yakni 1135 H atau sekitar dengan 1723 M maka akan sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan pendirian masjid Agung Demak 1479 M maupun masa renovasi pertama kali pada masa Sultan Trenggana pada 1506 M. Oleh karena itu bisa jadi apa yang disampaikan perlu pengkajian lebih lanjut.

Masih berkaitan dengan Masjid Agung Demak sebagai pusat penyiaran Islam di pesisir Utara Jawa Tengah. Di kabupaten Pekalongan, tepatnya di desa Rogoselo Kecamatan Doro terdapat petilasan/cagar alam Arca Baron Sekeber dan Makam Ki Gede Atas Angin atau Pangeran Atas Angin. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat Baron Sekeber adalah orang Eropa yang sakti yang berkelana untuk menjajal kesaktiannya. Konon ia hanya dapat terkalahkan oleh Ki Gede Atas Angin seorang wali sakti dan jasadnya menjelma menjadi arca batu.

Sebagaimana disebut De Graaf dan Pigeaud, mengutip hikayat Hasanuddin, setelah Masjid Agung Demak berdiri maka ditunjuklah Sunan Bonang, Putra Raden Rahmat untuk menjadi imam namun kemudian beliau meletakkan jabatan itu untuk pergi mula-mula ke Karang Kemuning kemudian ke Bonang. Pengganti Sunan Bonang adalah suami cucu Nyai Gede Pancuran yang diberi nama Makdum Sampang. Nyai Gede Pancuran adalah putri Raden Rahmat yang konon menikah dengan Pangeran Karang Kemuning, seorang alim ulama dari “Atas Angin” dari Barat. De Graaf dan Pigeaud memperkirakan ia adalah orang Melayu atau orang yang berasal dari India atau Arab yang bernama Ibrahim.

Kesamaan nama sebagaimana disebut De Graaf dengan legenda yang hidup di Masyarakat Rogoselo tentang Ki Gede Atas Angin, ada kemungkinan merujuk kepada tokoh yang sama. Kalau hal ini benar maka Ki Gede Atas Angin ini adalah menantu Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Seorang ulama yang turut menyebarkan agama Islam di daerah Pekalongan. Namun bila dikaji dari sisi Baron Sekeber yang kabarnya adalah orang Belanda atau Eropa. Dimana kedatangan orang Eropa ke Jawa adalah jauh sesudah masa Raden Rahmat. Maka argumentasi Ki Ageng Atas Angin adalah orang yang sama agaknya terpatahkan dengan sendirinya.

Selain makam Ki Gede Atas Angin di Desa Rogoselo, di sebelah selatan masjid kauman Rogoselo juga terdapat makam wali yang dipercaya sebagai penyebar agama Islam. Beliau adalah Ki Ageng Rogoselo atau menurut Habib Luthfi bin Yahya nama aslinya adalah Syaikh Abdullah. Atas saran dari Habib Luthfi nama beliau diabadikan menjadi Nama masjid di kompleks Batalyon 407 Kompi C Senapan di Wonopringgo. Belum diperoleh informasi yang jelas mengenai asal-usul dan biografi Syaikh Abdullah ini.

Dari sebutan para penyebar Islam di Pekalongan di atas di mana menggunakan sebutan Ki Ageng, Ki Gede atau Ki Agung ada kemungkinan bahwa mereka itu termasuk bagian dari Bhayangkari Islah (pelopor kebaikan), yaitu para penyebar keagamaan yang diorganisir oleh para wali dengan tugas melaksanakan penyebaran agama sejak masa Sunan Ampel.

Jejak penyebaran Islam di Pekalongan dapat ditelusuri juga dari keberadaan petilasan yang diyakini warga sekitar sebagai petilasan Syaikh Siti Jenar yang terdapat di desa Lemah Abang Kecamatan Doro. Syaikh Siti Jenar disebutkan pernah berguru kepada Sunan Giri, namun pengaruh tarekat yang pernah dipelajarinya di Gujarat lebih kuat pada dirinya. Syaikh Siti Jenar adalah pengikut tarekat Akmaliyah. Tarekat ini berhulu kepada Abu Yazid al-Bustami (w. tahun 874 M) dan al-Hallaj (abad 9 M) yang mengajarkan pantheisme. Dengan demikian di Pekalongan pada abad ke-15 dan 16 penyebaran Islam yang bercorak tasawuf heterodoks telah berlangsung dan ini kebanyakan berlangsung di daerah selatan di mana corak kehidupan masyarakatnya agraris yang kehidupannya relatif kurang dinamis.

Dari beberapa paparan di atas, tampaknya Islamisasi di Pekalongan selalu memiliki kaitan dengan dengan sosok Sunan Ampel dan Sunan Giri sebagai pemimpin organisasi Bhayangkari Islah. Bahkan ketika Giri Kedaton sebagai pusat penyebaran Islam ditaklukkan oleh Sultan Agung pada tahun 1635 M, sebagaimana dikisahkan dalam Serat Centhini, anak-anak Sunan Giri, yaitu Pangeran Jayengresmi, Jayengsari, dan Rancangkapti, mengembara (dibuku ditulis escape) meninggalkan Gresik untuk menyelamatkan diri, dengan terus menyebarkan agama Islam. Akan tetapi, perjalanan mereka tidak seiring sejalan. Jayengresmi (kelak menjadi Seh Amongrogo) yang ditemani santrinya Gathak dan Gathuk (Jamal dan Jamil) dari Giri menuju Karang, sedangkan kedua adiknya yang bermaksud mencarinya, dengan ditemani santrinya Buras, dari Giri menuju Pekalongan kemudian ke Sukoyoso (posisinya di sekitar Magelang, Jawa Tengah). Dari kisah ini Pekalongan dianggap sebagai daerah yang cukup penting sebagai tempat untuk menyelamatkan diri sekaligus tempat berdakwah. Saat itu dipastikan daerah Pekalongan sudah banyak komunitas Islamnya sebagai hasil penyebaran Islam pada dua abad sebelumnya

Minggu, 25 Juni 2017

MISTERI ANUNNAKI SEJARAH SUMERIA KUNO

Anunnaki – Mitologi Sumeria

 

Anunnaki dikenal manusia terdiri dari para Dewa yang utama yang ada pada peradaban Mesopotamia (Sumeria, Akkadia, Babylon, Assyria). Nama Anunnaki sendiri diartikan sebagai ‘darah bangsawan’, ‘keturunan pangeran’, atau ‘para manusia yang datang dari surga dan turun ke Bumi’. Menurut The Oxford Companion to World Mythology, Anunnaki dikenal sebagai Dewa – Dewa bangsa Sumeria, mewakili kesuburan, Dewa bawah tanah dimana mereka menjadi hakim.
Nama mereka diambil dari Dewa Langit bernama ‘Anu’. Dikatakan bahwa mereka juga disebut sebagai kelompok Dewa yang berkaitan dengan sebutan Igigi, tetapi tidak jelas digambarkan dalam sejarah tentang kondisi ini.
Berdasarkan mitologi tentang banjir besar Atra – Hasis dikatakan bahwa Igigi adalah generasi keenam dari para Dewa yang dipaksa bekerja untuk Anunnaki, lalu ini berakhir dalam pemberontakan selama 40 hari, semua ini pekerjaan para Dewa ini digantikan dengan manusia.
Disebutkan bahwa manusia diciptakan Anunnaki untuk melakukan penambangan emas yang dibutuhkan Anunnaki untuk memperbaiki atmosphere planet mereka yang rusak karena perang antar ras.
Enuma Elish yang juga dikenal dengan istilah The Seven Tablets of Creation adalah mitologi tentang penciptaan dalam kepercayaan Sumeria, dalam mitologi ini diceritakan bahwa pada proses penciptaan ini ada 600 Igigi dari langit.
Sedangkan dalam mitologi Babylonia, Enuma Elish (versi terakhir Enuma Elish yang berkaitan dengan Marduk), dikatakan bahwa Marduk memutuskan untuk membagi dua para Anunnaki, penempatan mereka adalah untuk di Bumi dan langit.
Dalam legenda tentang Gilgamesh, Anunnaki juga disebutkan ketika Utnaphistim menceritakan tentang kejadian banjir besar, fenomena ini mirip dengan cerita tentang Noah. Tujuh hakim bawah tanah yang disebut Anunnaki kemudian melakukan persiapan untuk membuat kobaran api besar di bumi, karena badai besar sebentar lagi tiba.
Berdasarkan mitologi Babylonia dan Assyria, Anunnaki adalah anak – anak dari Anu dan Ki, saudara – saudara dari para Dewa yang merupakan anak dari Anshar dan Kishar (Dewa Langit dan Dewa Bumi).
Sedangkan dalam buku Zecharia Sitchin, “The Cosmic Code”, dikatakan bahwa ada suatu masa dimana Bumi saat itu belum ada manusia, hewan – hewan masih liar dan tidak ada yang menjadi hewan peliharaan, tanaman belum ada yang membudidayakan.
Pada masa ini kemudian datanglah ke bumi sebuah group terdiri dari 50 Anunnaki. Dipimpin oleh seorang bernama E.A (artinya ; yang rumahnya adalah air), mereka melakukan perjalanan dari planet mereka, bernama Nibiru, mereka mencapai bumi, mendarat di Teluk Persia. Ini terjadi 450.000 tahun lalu.
Cerita tentang Anunnaki ini mungkin salah satu cerita paling tua di Bumi, atau memang merupakan yang tertua, ini berhubungan dengan terlahirnya pada Dewa di Bumi, dan juga ras manusia bumi. Ea kemudian menciptakan manusia pertama bumi bernama Lullu, untuk membantu pekerjaan abadi para Dewa dalam menjalankan perintah dan menjaga teluk.
Cerita ini dijelaskan dalam bentuk puisi dalam mitologi Sumeria, “Ea menciptakan manusia pertama bumi untuk mengabdi kepada para Dewa, dan membebaskan para Dewa dari tugas – tugasnya, kemudian Marduk mempersiapkan organisasi untuk mengelola akhirat, menunjuk para Dewa yang akan bertugas pada posisinya masing – masing di akhirat.
Kemudian puisi ini ditutup dengan doa panjang Marduk dalam menyelesaikan ciptaan ini.”
Dikatakan bahwa satu alasan Anunnaki datang ke Bumi adalah karena emas.
Pembangunan tambang – tambang emas itu kemudian dilakukan mereka, kemudian terjadi pemberontakan dari para Dewa yang menyebabkan mereka harus melakukan penciptaan manusia sebagai ras budak yang akan bekerja kepada mereka menggantikan para Anunnaki dalam pekerjaan mereka mencari emas di tambang – tambang yang mereka bangun di bumi.
Planet mereka Nibiru bergerak sangat jauh dari orbit, dan ini menyebabkan mereka terus berada dalam kegelapan dan penderitaan, maka saat planet mereka mulai mendekati matahari lagi, mereka sangat senang untuk mendekati bumi, dan membangun kehidupan diatas bumi. Bumi adalah planet yang hangat, sifat feminisme dari Mother Earth sanat menarik bagi mereka.
Berdasarkan mitologi Sumeria, Anunnaki dan Bumi adalah dua sifat maskulin dan feminim yang selalu bertemu, hubungan ini adalah hubungan sexual antar energi – energi maskulin dan feminim yang menciptakan manusia – manusia hybrida yang terlahir dari bumi.
Cerita – cerita ini banyak didapatkan dalam mitologi – mitologi bangsa Sumeria. Pada saat Anunnaki datang ke bumi, mereka mengganggu ritme alami dari bumi, mengganggu alam yang berada di bumi.
Mereka adalah bangsa yang memiliki teknologi sangat maju, dan mereka telah melakukan rekayasa genetika terhadap manusia pada masa yang sangat jauh dalam sejarah manusia.
Mereka adalah bangsa yang mempekerjakan manusia sebagai budak yang mempermudah semua pekerjaan mereka di bumi.
Dalam buku lain yang ditulis oleh Laurence Gardner, berjudul “Genesis of The Grail Kings” dikatakan bahwa peran Anunnaki bagi manusia adalah seperti peranan sebagai orang tua dan guru bagi umat manusia.
Bagi bangsa Sumeria, tujuan hidup mereka adalah untuk memberikan pelayanan terhadap Anunnaki, memberikan mereka makanan, minuman, dan lingkungan hidup yang menyenangkan untuk mereka. Sebagai timbal baliknya bagi Sumeria, mereka dididik tentang pelajaran kehidupan, pengetahuan alam semesta, ajaran – ajaran tentang alam semesta, kehidupan sosial dan ilmu pengetahuan lain yang mereka kuasai.
Hal ini dapat dibuktikan dengan bagaimana peradaban Sumeria, mereka adalah bangsa yang sangat maju, budaya tulisan mereka adalah salah satu tulisan tua yang termasuk salah satu budaya tulisan tertinggi di bumi.
Planet Nibiru, tempat asal Anunnaki, yang oleh bangsa Sumeria disebut sebagai Planet X adalah sebuah planet yang misterius, tidak diketahui mengapa ia berada pada solar system kita.
Dikatakan bahwa planet Nibiru adalah planet ke 12 dalam solar system dimana bumi berada. Istilah Nibiru sendiri sering dijuluki sebagai “planet yang melintas”, mereka mengorbit kepada matahari dengan lintasan yang lebih elipse daripada lintasan planet lain yang umumnya berada pada lintasan orbit horisontal.
Planet ini akan berada diantara Mars dan Jupiter tiap 3.600 tahun (1 Shar = 3.600 tahun/ lingkaran penuh) sekali, dan ketika itu terjadi, mengakibatkan banyak kehancuran pada seluruh planet pada solar system ini, karena ia ia melintas dengan sangat cepat dan menghasilkan energi rotasi yang sangat besar.
Dikatakan bahwa jauh di masa lalu, ada sebuah planet diantara Mars dan Jupiter, bernama Maldek, yang kemudian hancur berkeping – keping saat Nibiru melintasi jalur itu.
Planet ini terbelah menjadi dua, setengahnya adalah yang saat ini kita kenal sebagai asteroid belt bernama Ceres diantara Mars dan Jupiter. Kemudian pecahan nya yang setengah lagi adalah menjadi planet bumi dan bulan dari Mars.
Dikatakan bahwa Nibiru selalu melintas bersama bulan mereka yang selalu dalam keadaan terbakar seperti matahari, Indian Maya pernah meramalkan bahwa kedatangan Nibiru akan terjadi pada awal abad ke 21, ini yang dikenal dengan ramalan hari kiamat, diramalkan pada 2012 lalu, ini juga sama persis dengan ramalan dari Nostradamus, semua merujuk pada 2012.
Sekarang sudah 2016, artinya kita berpikir bumi telah aman dan ramalan itu tidak terbukti? NASA telah merilis berita bahwa mereka menemukan keberadaan ‘Brown Dwarf’ baru – baru ini, berdasarkan teori konspirasi yang dirilis ‘Disclose TV’, dikatakan NASA telah menutupi ini dari dunia selama puluhan tahun.
Tidak ada yang tahu soal ini, walaupun perubahan iklim yang lebih ekstrim tahun – tahun belakangan ini, bencana – bencana yang terjadi, diindikasikan oleh banyak peneliti adalah berhubungan dengan mendekatnya Nibiru, ini mempengaruhi semua iklim yang terjadi pada planet – planet yang ada di solar system ini.
Banyak teori tentang mendekatnya Nibiru, dan banyak orang mengaitkan ini kepada kiamat, kedatangan kembali para Anunnaki. Tiap kali kedatangan Nibiru ke tata surya ini, mereka menciptakan kehancuran besar, tetapi setelah itu kemudian terjadilah kehidupan baru. Hal ini juga diceritakan dalam Baghavad Gita.
Via- David Devanta

Comments